Salbut



Salbut
Saya sungguh familiar dengan istilah pendidikan itu. Sejak bersekolah di taman kanak-kanak atau TK, saya sudah diperkenalkan dengan pendidikan. Sudah berapa tahun silam perasaan dan pikiran ini menyatu bersama pendidikan. Kalau boleh saya berkomentar, kondisi pendidikan republik saya sangat memprihatinkan. Memprihatinkan dalam maksud, perlu diperhatikan dan dibangkitkan.
Ramai di berbagai media seakan mencekik kehidupan pendidikan di Indonesia. Berita tak mengenakkan acap kali disuguhi kepada khalayak umum. Mulai dari pelaksana pendidikan, kasus mencuat ; guru sodomi para siswinya. Hingga pada sistem pendidikan yang ruwet bagai benang kusut. Tak jelas arah, tujuan dan programnya. Sehingga organ yang menjalankan juga salbut (bahasa Madura, salbut=berantakan). Kontrol dari pemangku kebijakan masih belum efektif. Dampak terbesar dari semua itu adalah para peserta didik gagal bersaing dengan warga tetangga.
Tak heran, banyak warga Indonesia menggantungkan nasibnya di negeri sebelah. Profesi yang diambil sungguh menyayat hati sang garuda, yakni pembantu rumah tangga. Jangan salah, jika warga tetangga mengklaim bahwa orang Indonesia bermental babu atau semacamnya. Karena memang saat ini, hal itu benar.
Entah bagaimana kondisi pendidikan Indonesia di masa depan ? apakah tetap seperti ini atau bergerak lebih maju. Saya tidak ingin ikut-ikutan mencibir kondisi real pendidikan saat ini, layaknya beberapa media itu. Malah yang ada kesedihan berlalu lintang di benak saya. Tak pantas kiranya disebut sebagai warga negara yang baik, jika dalam menjaga, mengontrol, dan ikut mendesain pendidikan di tingkat lokal saja tak kesampaian.
Eksistensi pemuda juga masih belum nampak dalam memperbaiki pendidikan Indonesia. Banyak di antara mereka yang acuh tak acuh atas kondisi real pendidikan. Terpenting, mereka sekolah hingga dapat ijazah dan semacamnya. Lulus dengan nilai tinggi. Padahal peran pemuda bukan hanya begitu. Pemuda diharapkan mampu memberikan yang terbaik untuk pendidikan Indonesia ke depan. 
Tapi biarlah hari ini peran pemuda seperti itu. Buatlah tulisan singkat ini dijadikan angin pengingat para pemuda Indonesia. Kesempatan selalu terbuka lebar untuk siapa saja yang berusaha. Saya begitu juga dengan Anda wahai pemuda Indonesia, mari kita bersama wujudkan pendidikan republik ini lebih maju dan berkembang. Segala bentuk pemikiran, saran maupun kritikan jangan sungkan untuk segera disampaikan kepada para pemangku pendidikan. Semoga usaha kalian diperhitungkan di sisiNya. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rokat Tase'

upaya meningkatkan hasil belajar