Manusia Malaikat



          Malam itu kembali aku melihat purnama terlelap dalam dekapan malam, angin bernyanyi dengan irama kesunyian.  Kehidupan ini tak dapat dilukis sesuai dengan apa yang di harapkan, sebab putaran roda waktu terus mendesak pergi menjauhi kehampaan ini sendiri dalam tangis, namun, tak berair mata.  semenjak ayah pergi meninggalkan ibu dan diriku jauh kelorong tak berrujung itu, hingga aku dan ibu harus menjalani kehidupan ini dengan penuh pengorbanan  yang sangat melelahkan.
          Hari menyisir  waktu, membantai tumpukan belati kejalan yang berbatu, harapan tak henti-hentinya berteriak dalam ruang tak berpintu, mengharapkan semua ini berahir bersama petualangan senja yang setia menemani terlelabnya mentari, “matahari telah tenggelam, ibu harap kau masih mampu menatap hari esok…! Walau semua itu akan terasa mencabik jiwa dan ragamu.” Sangat begitu lembut suara ibu terdengar merasuk dalam sanubari, membuatku  terketuk untuk bangkit dari duduk dan hendak melaksanakan sembah sujud pada Tuhan yang Esa.
          Awan berarak menimpali permukaan langit, kegelapan telah bertahta diatas singgasananya, keterdiamanku membuat ibu kembali bersuara, “berhentilah kau termenung nak, karna kesunyian takkan mampu kau lawan, ingatlah hari esok nak, karna dari sana kau akan memulai hidup yang sebenarnya” tak hentinya ibu memberi obor pada jiwa yang hampir kosong ini. Sebenarnya aku harus sadar betapa tingginya ubun-ubun dan betapa dalamnya lautan serta betapa luasnya bumi ini, mengapa aku masih harus bertapa dalam pasrah, sedangkan permata telah mengantang di hamparan pantai.
          Tak tersa malam menjerat, suasana dingin menjadi imam dalam keheningan. Tiba-tiba terdengar sebuah lagu dari tetangga sebelah, dan lagu itu merupankan lagu kesukaanku, - ibu kusayang masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah, seperti udara kasih yang engkau berikan tak mampu kumembalas ibu….ibu….!. terbesit dalam anganku untuk bangkit bersama nyanyian itu,
          Bila malam tiba kuharap siang cepat datang, namun saat malam telah kujumpai aku rindu pada siang, hingga siangpun telah datang menyapa.  kira-kira jam 06.52 sembari duduk kembali dan hanya mampu menadangi langit-langit rumah yang hampir roboh. Saat itu pula terdangar teriakan salam dari luar pintu, suara itu tak asing lagi ditelintidaku, karna aku telah lama bersama suara itu, Firman sahabat terdekatku, yang selama ini selalu jalani kehidupan berdua, baik suka maupun duka. Kian terjawab salamnya bersama terbukanya pintu, sapaan senyum bertebaran menghiasi cerahnya alam. “silahkan masuk,  aku mau buat kopi dulu,” mungkin karena suasana telah berubah hingga dia berkomentar tentang apa yang telah dia pahami, “ibu kamu kemana sob….? Sering aku kesini, yang aku tau ibu kamu yang selalu bikin kopi, namun kenapa cuma dalam waktu satu minggu suasana disini udah berubah, emangnya kemana ibu kamu….?” Sungguh pertnyaan ini sangat menghantam dadaku, aku sangat kebingongan akan berkata apa, saat mendengar pertanyaan Firman, “sebenarnya aku tidak ingin ceerita pada siapapun tentang apa yang telah terjadi pada ibuku belakangan ini” sebelum aku melanjutkan apa yang akan hendak aku katakan, malah Firman membantah penuh dengan paksa, “ jika kamu masih menganggap aku sebagai sahabat dekatmu, maka cepatlah ceritakan, apa yang telah terjadi pada ibu, karena aku sendiri telah menganggap ibumu sebagai orang tuaku sendiri “
          Terbata-bata aku menjelaskan apa yang telah terjadi, hingga Firman terketuk hatinya untuk membantu meringankan beban yang telah menjeratku. diapun terus mendesakku untuk membawa ibu kerumah sakit, “sob…!sudah sering kamu membantu aku, hingga aku tak tau akan membalas semua itu dengan apa…?” Firman langsung menimpali perkataannya, “kenapa kamu masih berkata seperti itu, kita udah lama kenal, dan aku merasa akulah yang banyak berhutang budi padamu” suasana salling membentur kata telah menyebar di ruang yang hampa ini, hingga takku temui lagi kesunyian.
          Ibu yang hanya mampu terbaring diatas penjara penderitaannya, di hampiri oleh Firman, mungkin dia merasa iba saat dia melihat ibu yang hanya mampu terbaring lusuh, hingga dia meneteskan air matanya, akupun tak kuasa membendung air mataku, suasana menjadi haru. “Andi, mari kita bawa ibumu kerumah sakit” aku hanya mampu mengeluh dalam hati, kutarik nafas pelan-pelan, “sudah dari kemaren lusa aku mengajak ibu tuk periksa kerumah sakit tapi dia tidak mau, bahkan aku takhenti sampai disitu, hampir setiap waktu aku terus mengajaknya, alhasil sampai sekarang ibu tetap tidak mau. ” mendengar keluhanku Firman berusaha tuk membujuk ibu agar dia mau dibawa beroat kerumah sakit, hasilnya tetap nihil.
          Tiga hari telah berlalu dan penyakit ibu semakin parah, aku semakin bingung akan berbuat apa, ibu tak bisa diajak utuk berobat, mungkin karena ibu tahu kalau aku tidak punya uang tuk membiayai ibu dirumah sakit.  Firman yang telah lama jadi sahabatku hampir tiap hari datang kerumah ini cuma sekedar ingin membujuk ibu agar mau dibawa kerumah sakit. Alhamdulillah pada hari ini usahanya berhasil, ibu telah mau diajak untuk berobat, membuat aku iri padanya, kenapa bila aku yang ngajak ibu tidak mau, pas Firman yang ngajak dia mau, namun, tidak apalah…! yang penting ibu mau berobat. Suasana hati telah terang seakan tak ada beban dalam jiwa ini.
Suasana rumah sakit yang begitu ramai seakan menyambut kedatangan kami, salah satu perawat mengotong ibu masuk ke ruang ICU, dari sekian dokter yang ada dua diantaranya menangani penyakit yang ibu derita.
hari sudah sore senja terlihat indah terpatri cahaya mega dari jendela yang tunggal menjadi hiasan langit yang biru, “matahari telah tenggelam, ibu harap kau masih mampu menatap hari esok…! Walau semua itu akan terasa mencabik jiwa dan ragamu.” Aku heran kenapa kata-kata itu kembali terucap, kutatap ibu dengan penuh senyum sembari beranjak untuk mengahadap Tuhan dan aku meminta Firman untuk menjaga ibu, “sob…! Tolong jaga ibu dulu karna aku masih mau mandi dan shalat” Firman hanya mengangguk, tak ada kata apapun darinya.
          Selepas aku tunaikan ibdah shalat tiba-tiba Firman tergesah-gesah menghampiri aku, dan myampaikan bahwa dari tadi ibu memanggil-manggil aku, tak ada kata lagi aku langsung menuju kamar ibu dirawat, “ibu………….! Mengapa kau telah meninggalkan aku. semenjak kematian ayah, hanya ibu yang aku miliki, dan hanya ibu pula yang selalu ada untukku, tapi kenapa sekarang ibu juga meninggalkan aku, siapa yang akan menemani aku lagi ibu……….,” tak kuasa aku menahan pilu yang menyayat batin ini. “Andi, hapuslah air matamu, jaganlah kau iringi kepergian ibumu dengan tangis, namun iringilah kepergiannya dengan do’a, semuga ALLAH memberinya tempat yang layak, dan beliau mau menerima ibumu disisiNYA” sungguh aku tak sanggup menerima semua cobaan ini, namun, aku takbisa berbuat apa selain hanya menerima.
          Hari-hari menjadi hampa, orang yang aku cintai dan aku sayangi telah pergi meninggalkan aku sendiri, aku yang bergelut dalam sepi hanya bisa kembali bertapa dalam kehampaan, Firman semenjak ibu meninggal tak lagi datag kerumah, membuat aku semakin tak tahan untuk hidup seperti ini. Secara tak sengaja kulihat jam sudah menunjukkan pukul 03.25 malam numun, tak sedikitpun aku merasa ngantuk, terus aku termenung meratpi perjalanan hidup yang serba tanda tanya ini, hingga matahari kembali menyapaku dihari ke empat ibu meninggal. Aku teringat saat-saat bersama ibu dulu, saat aku masih jadi anak yang begitu nakal.
          Pas jam 06.45 Firman datang kerumah, aku terkejut saat melihat Firman membawa koper yang masih belum aku ketahui apa isinya, “assalamu’alaikum, ” “wa’alaikumsalam” aku langsung menjawab salamnya kembali aku melihat cerahnya langit bersama senyum yang tersungging di bibir Firman, dengan kehadiran Firman ini aku telah merasa tidak kesepian lagi. “Andi…! Izinkanlah aku tinggal disini..? ” “apa..! terus gimana dengan keluargamu..?” tanyaku padanya. “aku telah pamit pada keluargaku, kalau aku akantinggal disini bersamamu” “sampai kapan kamu akan tinggal disini..?” “sudahlah jangan tanya tentang itu, yang jelas aku akan terus bersamamu sampai kamu terbebas dari kesepian ” “terimakasih sob atas semua yang telah kau korbankan ini, sungguh semua ini sangatlah berarti dalam hidupku, dan aku janji sampai kapanpun aku tidak akan melupakan semua ini”
          Hari berganti minggu dan minggu telah berganti bulan, sampai detik ini Firman tetap bersamaku, dialah sahabat yang telah menjadi pahlawan dalam hidupku, dalam satu bulan dia hanya pulang satu kali kerumahnya, tak ubahnya saat kita masih mondok dulu, dan saat ini kita berdua keluar rumah tuk menghirup udara segar di luar sana. Pas kita lewat disalah satu rumah sederhana kulihat ada seorang gadis yang sangat cantik sedang menyapu di halaman rumahnya. Aku bilang sama Firman kalau gadis itu cantik, “emangnya kenapa bila gadis itu cantik..? apa kamu suka sama dia” Dengan guyonnya dia bertanya padaku, dengan guyon pula aku menjawab pertanyaannya, “iya, aku suka sama dia, tapi mungkinkah dia masih belum punya suami…?” “ha….ha…haa…ternyata ada yang jatuh cinta ne…?” biar Firman tidak meneruskan guyonannya maka secara sepontanitas aku mengalihkan perkataan. sampai benar-benar terhenti.
          Entah kenapa aku selalu memikirkan gadis itu, seakan-akan di telah menjadi hantu yang selalu mengganggu fikiranku, Firman tau kalau aku memkirkan sesuatu, hingga membuatnya bertanya padaku “aku tau kalau kamu sedang berfikir, emangnya apa yang telah kamu fikirkan shob…?” kali ini aku harus terus terang padanya, kalau aku memikirkan gadis yang aku jumpai kemeren. “gimana kalau kita temui saja dia, dan bertanya langsung sama dia, apa dia sudah punya suami” “wahh… bisa berabe ini… jika kita langsung tanya sama dia, gima kalau kita mampir kerumah sebelahnya, kita tanya pada mereka” bantahku terhadap solusi yang Firman  lontarkan, “waduh…ternyata kau masih cerdas juga An”. Tak menunggu lama lagi kita berdua langsung menuju rumah itu, puluhan pertanyaan menghantam pak Parmo, dengan jawaban yang amat membahagiakan, ternyata gadis itu masih belum punya suami, dikarnakan baru pulang dari pondok.
          Sembilan hari selepas kita pergi kerumah pak Parmo bertepatan pada hari senin tanggal 09-05-2010 aku memberanikan diri untuk melamarnya, Alhamdulillah aku diterima, hingga pada saat itu pula aku langsungkan akad nikah, dan yang mempersiapkan semua itu lagi-lagi shabatku Firman, kebahagian tak terelakkan lagi, akan aku jalani kehidupan ini dengan penuh rasa syukur. Walau aku hanya hidup sebatangkara, ternyata masih ada yang mau menemani aku.
          Tiga hari semenjak aku mempersunting Laila, Firman pamit untuk pulang kerumahnya, dan semua bajunya telah dibawa pulang, berarti dia tidak akan kembali lagi. “tugasku telah berahir, kebelakang  dari sekarang kamu tidak akan kesepian lagi. Jadi aku akan pamit untuk pulang” “shob…!” tak kuasa aku menahan air mata, “sungguh aku telah banyak berhutang budi padamu ” sambil kupeluk tubuhnya erat, “sudahlah shob.. jangan berkata seperti itu aku ini adalah sahabatmu” “kamu bukan hanya sahabat bagiku, tapi, kau adalah saudaraku” “sudahlah, aku pamit,” sambil menjabat tangannya aku tetap menangis, dan tangisku semakin menjadi saat melihat langkahnya yang terahir, tak mampu aku menahan semua ini, dengan keras aku katakan “FIRMAN, KAULAH SAHABAT SEKALIGUS MALAIKAT BAGIKU”
          Semenjak kepergian Firman aku mulai hidup dengan istriku penuh kebahagian. “Yang, kapan-kapan kita akan datang menemui Firman” pintaku pada istri. Dari sinilah aku baru menemukan jati diriku yang sebenarnya, aku hidup dengan seorang istri yang sangat setia padaku. Hingga aku temukan pula kebahagian yang sebenarnya ditik ini dan untuk seterusnya.
TERIMAKASIH
26/12/15

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salbut

Rokat Tase'

upaya meningkatkan hasil belajar