Arus Balik Pendidikan



Arus Balik Pendidikan

Krisis multidimensi. Ya, itulah yang dirasakan saat ini di Negeri kita tercinta. Krisis multidimensi ini adalah krisis yang mengakibatkan bidang perekonomian, politik, dan pendidikan menjadi sangat merosot. Di dalam sebuah buku Filsafat pendidikan dikatakan bahwa pendidikan merupakan kunci dari krisis ini. Artinya dengan pendidikan maka negeri kita akan menjadi maju dan berkembang, begitupun sebaliknya.
            Setelah kita mengetahui bahwa pendidikan merupakan salah satu kunci untuk bisa memperbaiki negara kita di berbagai lini, maka lihatlah pendidikan itu sendiri di negeri kita. Melihat bagaimana mutu atau kualitas pada pendidikan itu sendiri bisa kita lihat dari output yang dihasilkan oleh satuan pendidikan. Yang nyatanya tidak sedikit dari generasi penerus bangsa ini memiliki kepribadian kerdil, gagap dan buta akan menjalani kehidupan.
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di negeri ini sangat jauh dari harapan dan visi pendidikan yang memanusiakan manusia secara holistik. Bukan hanya itu, hal ini juga sebagai salah satu potret bahwa pendidikan di Indonesia kurang optimal. Sehingga pelu kiranya kita mendalami lebih jauh dan mendalam.
Dalam sebuah sejarah mengatakan bahwa negara kita pernah menjadi salah satu pusat pendidikan bagi negara-negara tetangga. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di negara kita pada saat itu memiliki mutu dan kualitas yang tinggi. Namun, mengapa saat ini berbanding terbalik? Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya generasi penerus bangsa yang memilih sekolahan di luar negeri.
Seiring perkembangan zaman, para pemangku kebijakan dan pengelola di bagian pendidikan memiliki wawasan yang tinggi. Sehingga cara berfikirnya pun sangat modern. Hal inipun berakibat pada konsep yang dibuat untuk pendidikan. Terbukti dari banyaknya perubahan kurikulum dan sebagainya. Dari ketidakkonsistenan ini, mengakibatkan pendidikan di Indonesia semakin carut-marut. Hal ini pula memperlihatkan bahwa pendidikan hanya sebagai permainan politik saja.
Setiap perubahan yang dilakukan oleh pemangku kebijakan juga cenderung tidak bisa menyesuaikan dengan kultur yang ada di Indonesia. Sehingga implementasi dari pengajaran dan pendidikan yang diperoleh dari sekolah tidak sesuai dengan apa yang diharapkan di masyarakat.
Konsep pendidikan yang tidak sesuai dengan kultur atau budaya Indonesia juga memperlihatkan bahwa pendidikan karakter Indonesia menjadi semakin menghilang. Selain itu menunjukkan bahwa pemangku kebijakan tidak memiliki rasa bangga terhadap kekayaan ragam dan konsep yang dimiliki oleh Indonesia.
Salah satu konsep yang ditawarkan oleh tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara adalah dari salah satu semboyannya yang berbunyi “Tut Wuri Handayani”. Semboyan ini memang digunakan di negara kita hanya sebatas lambang dan simbol belaka. Dibuktikan dengan atribut yang digunakan oleh siswa sekolah dasar. Namun, secara substansi semboyan tersebut belum diimplementasikan secara maksimal.
Dari artinya yang berbunyi “mengikuti di belakang sambil memberi pengaruh” ini sungguh memiliki esensi yang kuat. Jika dari seluruh elemen pendidikan benar-benar mengimplementasikan hal tersebut maka pendidikan di negara kita akan berkembang secara perlahan. Dan bukan hanya satu semboyan yang sebenarnya perlu dilestarikan oleh kita sebagai warga negara Indonesia, melainkan adapula semboyan yang mampu memberikan kontribusi sangat besar terhadap dunia pendidikan, yaitu “Lawan sastra ngesti mulia” yang artinya dengan kecerdasan jiwa menuju ke arah kesejahteraan. Cukup jelas dengan semboyan yang dimiliki oleh negara kita. Yang sebenarnya mampu membawa negara kita ke arah yang lebih baik. Bukankah sudah disampaikan sebelumnya bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia secara holistik, dan menjadikan masyarakat bangsa kita ke arah kesejahteraan?
Nah, konsep inilah yang sangat tepat untuk negara kita. Konsep yang sangat sesuai dengan kultur budaya Indonesia. Oleh karenanya mari bersama-sama kembali merasa bangga bahwa Indonesia juga memiliki konseptor pendidikan yang sangat handal. Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa jangan selalu merasa akan sukses jika kita meniru konsep orang lain. Karena sesungguhnya setiap orang atau negara pasti memiliki konsep sendiri yang unik dan kreatif untuk sukses.
Jadi, hemat penulis adalah kita harus bangga dengan apa yang kita miliki. Karena jalan menuju kesuksesan memiliki banyak cara, dan cara kita sendirilah yang mampu membawa kesuksesan itu sendiri.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salbut

Rokat Tase'

upaya meningkatkan hasil belajar