Rokat Tase'



A.    Latar Belakang Penelitian
Di Indonesia ada baragam kebudayaan, salah satunya adalah upacara nyadran (Rokat Tase’). Nyadran menjadi rutinitas sebagian besar masyarakat Jawa setiap tahun pada bulan dan hari yang telah ditentukan. Upacara ini merupakan penghormatan kepada leluhur dan bisa juga menjadi bentuk syukuran massal. Di wilayah Jawa pedalaman, nyadran lazim digelar di pemakaman menjelang bulan puasa (Syaban), sedangkan di Jawa khususnya di jawa timur yang hidu di daerah pesisiran dilakukan di pantai pada Jumadil Awal. Acara ini menciptakan ciri khas kebudayaan pesisir pantai dan mempunyai daya tarik tertentu yang masyur di masyarakat.
Ini merupakan salah satu bukti akan kekayaan indonesia yang perlu kita jaga dan lestarikan sacara bersama-sama. Agar kita sebagai warga negara yang baik mampu mejalankan amanah yang negara, dan rasa nasionalisme kita semakin meningkat.
Tulisan ini merupakan hasil dari penelitian lapangan tentang upacara nyadran di desa Leggung kabupaten Sumenep khususnya masyarakat yang hidup di pinggir pantai dan Sekitarnya.
B.     Tujuan Penelitan
Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui perkembangan upacara nyadran dan sejauh mana masyarakat menghayati nilai yang terkandung dari suatu tradisi kebudayaan nenek moyang ini.
C.    Metode Penelitian
Selama penelitian, penulis menggunakan metode wawancara untuk mendapatkan data-data yang bersifat kualitatif. Namuan, untuk pembahasan tertentu, penulis tetap memasukan data-data kuantitatif yang didapat dari sumber sebagai pelengkap narasi.



A.    Hasil Penelitian
Kabupaten Sumenep adalah salah satu kabupaten yang ada di jawa timur yang mempunyai banyak pulau, dan kebanyakan dari masyarakatnya hidup di pinggir pantai. Salah satunya adalah desa leggung yang Hampir setiap hari penduduk pantai menangkap ikan, mulai dari nelayan lokal yang membawa hasil setiap harinya, hingga nelayan yang pulang untuk kurun waktu 3 bulan - 6 bulan sekali untuk sekali penangkapan. Potensi perairan di sekitar kabupaten sumenep khususnya Leggung memang sangat bagus banyak nelayan yang merasakan hasil yang melimpah ketika masa penangkapan tiba. Menurut informasi sesepuh Desa Leggung, Kecamatan Suemenep, Bapak Ageng, Upacara Nyadran atau pesta laut ini merupakan tradisi dari Jaman pra-Islam, yaitu ketika Jawa masih berada di Jaman Hindu-Buddha (Majapahit) dan (Mataram Kuno). Walau tradisi ini telah berlangsung lama, upacara nyadran tetap menjadi kontroversi di kalangan masyarakat dan kelompok keagamaan. Dikalangan muslim moderenisme setempat, upacara tersebut dipandang bertentangan dengan ajaran Islam, sementara bagi kelompok muslim tradisionalisme, nyadran bisa dipakai sebagai alat syiar Islam sehingga perlu di lestarikan, banyak unsur-unsur dalam upacara nyadran yang ternyata berbau animisme dan Hindu, seperti pemberian aneka sesaji yang dihanyutkan ke laut demi mengharapkan keselamatan dan limpahan rejeki (hasil laut) kepada penguasa laut.
Awal perkembangannya, Upacara Nyadran berinti dengan pelarungan kepala sapi dan diikuti dengan pesta makan oleh para penduduk sekitar, namun seiring perekembangan jaman Upacara Nyadran berkembang hingga adanya beberapa ritual suci yang dilakuakan seperti mabuk masal, sesembah kapal dan hiburan/perayaan. Doa yang digunakan yang semula menggunakan mantra-mantra jawa, kini telah diselingi oleh bacaan-bacaan arab, dimana didalamnya dimaksudkan untuk sebuah keselamatan dan rasa syukur. Pada 10 tahun yang lalu, di dalam Upacara Nyadran juga belum diperbolehkan adanya aktivitas perdagangan, hal ini dimaksudkan bahwa Upacara Nyadran benar-benar dilakukan untuk sebuah pesta bagi masyarakat, dan semuanya berhak untuk merasakan hal yang sama.
 Upacara yang diadakan setiap 6 bulan sekali atau dua kali dalam satu tahun ini berawal sejak jaman  nenek moyang. Bapak Ageng yang telah dipercayai sebagi sesepuh telah menuruni bakatnya untuk berkomunikasi dengan penghuni laut atau pantai yang ada di Leggung dari orang tuanya yang bernama Bapak Lais. Tidak jauh berbeda dengan Upacara Nyadran pada umumnya, Upacara Nyadran di Desa Leggung ini merupakan wujud rasa syukur yang ditujuakan kepada Sang Maha Agung, namun ada beberapa keunikan tersendiri Upacara Nyadran di desa ini. Selain diadakan dua kali dalam setahun, di desa ini juga terdapat kegiatan yang unik pula, seperti sesembah perahu selama dua hari. Sesembah perahu dimaksudkan agar, perahu yang hendak digunakan saat berlayar mencari ikan, akan mendapatkan keselamatan dan dijauhkan dari segala bencana (tolak bala).
Istilah Nyadran berasal dari kata “nyekar” dan “segaran” artinya mendekatkan diri dengan laut atau yang lebih tepatnya penghuni laut itu sendiri. Upacara ini tidak hanya diperuntukan bagi para penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan, namun semua penduduk disekitar pesisir pantai wajib merayakan bersama, hal ini dimaksudkan karena Upacara Nyadran diadakan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus sebagai sarana memperkuat rasa persaudaraan. Hal itu dapat terlihat dari banyak nilai yang terkandung dalam ritual inti nyadran. Pertama, hadirnya tokoh desa, ulama, juru kunci , para pedagang, nelayan, calon-calon legislatif, dan pejabat pemerintahan setempat menjadi tanda bahwa nyadran merupakan salah satu sarana untuk membangun hubungan harmonisasi dari lapisan-lapisan masyarakat. Artinya, sebuah tradisi yang bukan hanya mendamaikan antara kehidupan jasmani dan rohani, antara dunia manusia dan dunia roh, melainkan menjadi penyelaras kehidupan politik, sosial, ekonomi, dan agama tingkat lokal. Semua menyatu dalam sebuah upacara yang khitmat ini.
Dalam tradisi nyadran, syukuran yang dilengkapi dengan doa dan mantra adalah merupakan ritual inti. Ini dilakukan sebagai timbal balik mereka atas rejeki yang mereka peroleh selama ini dan harapan atas rejeki yang akan datang. Acara ritual dilaksanakan pada hari terakhir perayaan pesta laut yaitu pada Jum’at Kliwon. Mereka bersama-sama menuju ke laut untuk melaksanakan acara ritual tahunan itu. Sebagian besar dari mereka adalah para nelayan setempat. Seluruh prosesi acara sudah terjadwal dengan rapi oleh panitia penyelenggara. Warga masyarakat yang ingin memeriahkan upacara menaiki ratusan perahu yang telah disediakan. Pagi hari mereka berangkat ke lepas pantai dengan membawa potongan kepala sapia atau kambing  yang telah mereka persiapkan dengan segala macam bentuk sesaji dan hiasan yang telah dirangkai sedemikian rupa. Semuanya dihanyutkan ke laut lepas.
Setelah mereka sampai dilaut, mereka memulai acara tersebut. Diawali dengan doa sebagai washilah , mereka pun melarung  kepala sapi beserta sesaji yang telah dipersiapkan ke laut. Prosesi pelarungan diakhiri dengan do’a penutup yang intinya adalah harapan agar semua warga memperoleh keberkahan dan rejeki di hari yang akan datang. Semua itu atas dasar rasa terima kasih mereka kepada Tuhan. Bagi penulis, ungkapan rasa syukur itu bukan hanya kepada Tuhan, melainkan kepada alam dan penunggu laut. Ini tampak jelas dari doa yang dipanjatkan dengan Bahasa Arab, Jawa dan pemberian sesaji. Menurut para nelayan, dengan upacara nyadran mereka yakin akan mendapatkan keselamatan saat mencari nafkah di laut.
Dalam tradisi Nyadran juga terdapat pesta rakyat yang biasanya mengundang sejumlah hiburan yang diadakan di pinggir pesisir pantai selama tiga hari tiga malam. Dalam tradisi ini semua penduduk bebas memakan makanan yang telah disediakan. Makanan yang disajikan pun tidak hanya berasal dari hasil laut, melainkan makan-makan yang berasal dari darat pun semuanya ada. Tidak hanya sebuah hiburan makanan, disini penduduk juga disuguhkan dengan berbagai pertunjukan-pertunjukan seni daerah seperti Kuda Lumping, luddru, lomba-lomba dan Orkes gambus. Tidak sedikit dari penduduk juga merayakan pesta dengan mabuk masal yang diikuti oleh para laki-laki tua maupun muda.
            Tradisi Nyadran mepunyai makna sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus sebagai sarana pemperkokoh tali persaudaraan antar penduduk yang ada di Leggung. Menurut informasi dari salah satu penduduk sekitar, Bapak Wardi yang berprofesi sebagai nelayan menjelaskan bahwa tradisi nyadran di Leggung khususnya terdapat  dua macam, ada Nyadran Besar dan Nyadran Kecil. Nyadran besar dilakukan satu tahun sekali yang dilaksanan selama 1 minggu lamanya. Prosesinya juga lebih banyak dibandingkan dengan Nyadran kecil, namun tidak jauh berbeda. Mulai dari penghanyutan kepala sapi dilanjutkan dengan memandikan kapal-kapal yang digunakan para nelayan dengan kembang tujuh rupa yang dimaksudkan agar kapal yang digunakan tidak mengalami masalah ketika penangkapan ikan di tengah laut nantinya. Pemberian sesaji di hari berikutnya dan dilanjutkan dengan pesta masyarakat. Ketika malam hari biasanya acara akan semakin ramai dengan suguhan orkes yang biasanya mendatangkan para pedangdut yang musiknya merakyat. Biasanya ditengah perayaan tradisi Nyadran juga kerap dimanfaatkan para penduduk untuk berdagang meraup untung.

A.    Kesimpulan
Setelah mengamati secara menyeluruh tentang tradisi nyadran di Leggung, penulis menarik kesimpulan bahwa pesta laut yang menjadi rutinitas tahunan warga masyarakat pesisir itu merupakan tradisi yang kompleks. Dari sudut pandang agama, unsur animisme, Hindu, dan Islam menyatu didalamnya. Ini membuktikan bahwa ritual inti nyadran telah mengalami perkembangan yang evolutif sejak Jaman pra Hindu-Buddha hingga jaman Islam. Selain berfungsi secara spiritual (agama), nyadran ternyata memiliki fungsi sosial, politik, dan ekonomi. Bukan hanya sebagai ritual keagamaan, melainkan juga sebagai pembangun hubungan harmonisme dalam masyarakat, alat untuk kegiatan politik praktis, dan kesempatan melakukan aktivitas dagang.

DAFTAR PUSTAKA
Ø  Abdullah, Taufik. 1983. Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali
Ø  Pers.Herusatoto, Budiono. 1987. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.
Ø  Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salbut

upaya meningkatkan hasil belajar